Sesajen ini disebut sêgêhan, yang berasal dari bahasa Jawa dan Bali “sêga”, bermakna nasi. Ritual menghaturkan sêgêhan kepada saudara-saudara gaib kita tersebut dinamai masêgêh. Dalam masêgêh, kita belajar untuk mengetahui dan mengalami bagaimana energi pancamahabhuta yang dikendalikan Sedulur Papat Kalima Pancêr (pêrtiwi/tanah, apah/air, teja/cahaya, bayu/angin, akasa/ruang) membentuk tubuh kita dan bagaimana kita menciptakan keterhubungan dengan energi tersebut. Dalam yantra sêgêhan ini, energi pancamahabhuta disimbolkan dengan nasi lima warna sesuai dengan warna Sêdulur Papat Kalima Pancêr, yaitu:

  1. NASI PUTIH. Mewakili Kakang Kawah/Yeh Nyom dan transformasi-transformasinya, yaitu Bhuta Pêthak/Anggapati, Ratu Ngurah Tangkêb Langit, dan Bhatara Sadyojata/Iswara. Nasi putih ini ditempatkan di atas—mewakili arah timur dan pasaran Lêgi/Umanis.
  2. NASI MERAH. Mewakili Gêtih dan transformasi-transformasinya, yaitu Bhuta Bang/Mrajapati, Ratu Wayan Têbêng, dan Bhatara Bamadewa/Brahma. Nasi merah ini ditempatkan di sebelah kanan—mewakili arah selatan dan pasaran Pahing.
  3. NASI KUNING. Mewakili Adhi Ari-Ari dan transformasi-transformasinya, yaitu Bhuta Jênar/Banaspati, Ratu Made Jêlawung, dan Bhatara Tatpurusa/Mahadewa. Nasi ini ditempatkan di bawah—mewakili arah barat dan pasaran Pon.
  4. NASI HITAM. Mewakili Pusêr-Lamas dan transformasi-transformasinya, yaitu Bhuta Irêng/Banaspati Raja, Ratu Nyoman Sakti Pêngadhangan, dan Bhatara Agora/Wisnu. Nasi hitam ini ditempatkan di sisi kiri—mewakili arah utara dan pasaran Wage.
  5. NASI MANCAWARNA (campuran dari empat nasi sebelumnya). Mewakili Rare Cili sang Pancêr dan transformasi-transformasinya, yaitu Bhuta Mancawarna/Dhêngên, Ratu Kêtut Pêthung, dan Bhatara Guru/Isana. Nasi mancawarna ini ditempatkan di tengah-tengah—mewakili arah pusat dan pasaran Kliwon.

    Lima nasi tersebut dibentuk serupa tumpeng kecil sebagai simbol gunung yang mewakili keberadaan alam, ditempatkan di atas sebuah alas dari daun pisang berbentuk segi empat.

    Selain lima nasi tersebut, pada sêgêhan juga terdapat beberapa hal berikut ini:

    a. Dua wadah kecil dari daun pisang berbentuk kerucut. Wadah pertama ditempatkan di pojok bawah sebelah kiri, berisi irisan bawang merah, irisan jahe, dan garam (simbol masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang). Wadah kedua ditempatkan di pojok bawah sebelah kanan, berisi biji beras (simbol kesuburan).
    b. Porosan yang terdiri dari daun sirih, kapur sirih, dan gambir (simbol kelahiran, kehidupan, dan kematian) ditempatkan di posisi paling atas dari alas sêgêhan.
    c. Dupa harum.
    d. Canang, yaitu takir kecil yang berisi kembang setaman dan irisan daun pandan.
    e. Tirtha suci, yaitu air putih yang telah disucikan dengan mantra.
    f. Tabuhan, yaitu cairan untuk memerciki sêgêhan yang berisi campuran arak, tuak, dan brem (simbol kekuatan penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan).


    Penjelasan lengkap tentang sesajen ini dan ritualnya bisa dibaca di buku Sêdulur Papat Kalima Pancêr terbitan Javanica.

    Pemesanan via WA 0812-8765-4445 klik: https://bit.ly/orderbuku-Javanica

    Tokopedia: https://tokopedia.com/javanicabooks
    Shopee: https://shopee.co.id/javanicabooks
sedulur papat kalima pancer

0
0
0
0
WhatsApp chat